Rabu, 28 Oktober 2026   |   ● Indonesia
Berita Desa, Untuk Indonesia

Hari Santri Nasional 2026, Mendes Yandri Ingatkan Peran Pesantren di Tengah Krisis Moral

SERANG, DESAKU – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum untuk mengingatkan kembali peran penting santri dan pondok pesantren dalam perjalanan bangsa. Bukan hanya soal sejarah perjuangan kemerdekaan, tetapi juga tantangan menjaga moral generasi muda di tengah perkembangan zaman.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menilai pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda, terutama ketika masyarakat dihadapkan pada berbagai persoalan sosial, mulai dari judi online, korupsi, hingga menurunnya etika di ruang publik.

Hal tersebut disampaikan Yandri saat menghadiri Resepsi Hari Santri Nasional 2026 di Aula Pondok Pesantren Bai Mahdi Sholeh Makmun, Kabupaten Serang, Banten, Kamis (22/10/2026).

Menurut Yandri, pendidikan pesantren yang mengedepankan kedisiplinan serta bimbingan para kiai menjadi salah satu kekuatan dalam membangun karakter santri.

Ia juga menegaskan bahwa keberadaan pondok pesantren harus terus dijaga karena memiliki kontribusi besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Hari Desa Nasional ini bentuk keberpihakan negara Bapak/Ibu, untuk memastikan bahwa pondok pesantren itu harus dijaga. Maka kalau ada orang yang memojokkan menghina Pondok Pesantren, itu adalah musuh kita Bapak/Ibu,” ujar Yandri.

Santri dan Jejak Perjuangan Kemerdekaan

Dalam kesempatan tersebut, Yandri mengingatkan bahwa Hari Santri Nasional tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan Indonesia.

Sejak masa penjajahan, para santri bersama kiai telah mengambil bagian dalam perjuangan melawan kolonialisme hingga mempertahankan kemerdekaan.

Salah satu peristiwa penting yang menjadi dasar peringatan Hari Santri adalah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang digelorakan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari.

Resolusi tersebut menjadi seruan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan.

Yandri menyebut kontribusi pesantren tidak berhenti pada masa perjuangan kemerdekaan. Pesantren juga dinilai memiliki peran dalam menghadapi berbagai gejolak yang terjadi sepanjang sejarah bangsa, termasuk peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Baca Juga  Petahana Agus Yuliyanto Maju Lagi di Pilkades Suruh, Produk Desa Tembus Ekspor Jadi Modal

“Karena pesantren memberikan sumbangsih dan kontribusi yang sangat nyata dan sangat besar dalam proses hidup berbangsa dan bernegara,” kata Yandri.

Menurutnya, pesantren selama ini tetap berada pada jalur pengabdian kepada bangsa melalui pendidikan, pembentukan karakter, serta penanaman nilai-nilai kebangsaan.

Apresiasi untuk Kiai dan Ulama

Pada momentum Hari Santri Nasional 2026, Yandri juga menyampaikan penghargaan kepada para kiai, ulama, dan guru yang telah memberikan kontribusi dalam mendidik generasi penerus bangsa.

Ia menilai peran mereka tidak hanya terbatas pada pendidikan agama, tetapi juga dalam menjaga nilai moral dan memperkuat kehidupan bermasyarakat.

“Oleh karena itu, kami atas nama pribadi maupun atas nama pemerintah, mengucapkan terima kasih kepada para alim, para ulama, para kiai, para guru kami, yang sudah selalu membersamai perjuangan perjalanan hidup berbangsa dan bernegara ini,” ujarnya.

Resepsi Hari Santri Nasional tersebut turut dihadiri Abdurahman Mahfal selaku delegasi Yayasan Timur Tengah/Kuwait.

Hadir pula sejumlah pejabat Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, di antaranya Dirjen PEID, Kepala BPSDM Tabrani, serta Kepala BPI Mulyadin Malik.

Kategori: NASIONAL, TERKINI

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya